Jumat, 13 April 2012

Menerobos Diri dengan berbagai Petualangan

Fun Rafting....

Lingkaran Kampus..

Indahnya  Gunung Api Purba Nglanggeran...

Eksotisme Telaga Menjer Wonosobo....

Fun Bike in Kudus....

Bromo oh Bromo...

Pesona Kejernihan Sungai Rahtawu...

Goa Pindul yang Mengasikkan...

Kamis, 15 Maret 2012

Pemandian Para Putri Keraton Tamansari Yogyakarta


Tamansari biasanya identik dengan tempat pemandian para putri dan selir Raja Jawa di Keraton Ngajogjakarta. Yupz..betul bgt, tempat itu masih dilestarikan sampai sekarang sebagai salah satu daya tarik objek wisata di DIY. Perjalanan ini sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya..berhubung wekeed tepatnya tgl 26 Maret 2011 serta ga da rutinitas. Kita para cewek Kos 16 B meskipun hanya 4 orang yakni aku, mbx novi, anes dan mega berencana mengunjungi tempat tersebut. Sekitar 20 menit dari kos kami di JL.Gejayan dan smbil berboncengan kita menuju Taman Sari.
                                 "Pintu Gerbang Tamansari"
                                                         "Salah Satu Sudut Di Tamansari"
Meskipun aku sudah 2 tahun lbh di Jogja, namun belum ada waktu untuk singgah ke Tamansari. Aku lebih suka mengunjungi objek wisata yang ada di DIY bersama tmn2 banyak cz lebih seru dan asyik..hehehe. Sebelum masuk kita harus membeli tiket masuk yang cukup murah sekitar 3000 rupiah. Berhubung mbx Novi sudah pernah kesana, jadi dia bertindak sebagai Guide kami. 
                                     " Anes, Aku n Mega"
                           " Kolam Pemandian Raja n Selir"
Dia menerangkan setiap jengkal  sejarah dan arsitektur di Taman Sari dengan B.Inggris diselingi B.Indonesia seru.. bgt. Ketika masuk pertama kali kita akan diperlihatkan kolam pemandian yang dibagi menjadi 2 yakni kanan dan kiri. Nah di sisi kiri Kolam ada sebuah balkon tertutup yang digunakan Raja Jawa untuk melemparkan bunga kantil ke kolam yang berisi selir-selir untuk memperebutkan bunga kantil. Siapapun yang mendapatkan bunga kantil berkesempatan untuk mandi bersama Raja dikolam khusus letaknya disisi paling barat dari Balkon. Suatu kehormatan besar bagi para selir yang dapat mandi bersama Raja. Pada sisi paling Timur terdapat ruangan ganti pakaian bagi para selir Raja. Sesudah puas mendengarkan cerita mbx Novi kita lanjutkan ke area berikutnya yaitu suatu bangunan Tembok Tinggi Besar Berwarna Putih yang berhiaskan relief yang Indah. 

                             "Pengrajin Di Kampung Batik"
Selanjutnya kita melewati kampung Batik untuk  menuju Benteng Pertahanan. Benteng tersebut terdiri dari lorong-lorong yang gelap serta ditengah-tengahnya ada kolam kecil. Untuk menuju tengah kolam terdapat tangga dari 5 arah yang dipercaya simbol atau mengisyaratkan salat 5 waktu. Setelah itu kita menuju bangunan kuno berupa puing-puing tua. Disana saya dapat melihat aktivitas warga Jogja yang berlalu-lalang sebab lokasinya berada di daerah yang lebih tinggi dari Jalan Raya.
                                 " Salah satu sudut Lorong"
Berhubung waktu sudah sore dan terlihat mendung, kita memutuskan untuk pulang ke kos. Well...sesudah puas mengunjungi Tamansari, kita berniat melanjtkan petualangan-petualangan yang lebih seru, asyik, murah serta berkesan di sekitar DIY.

Sepoi-Sepoi di Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri)

Ingat pelajaran IPS sewaktu di SD yaitu apa waduk terbesar di Jawa Tengah? Pasti semua sudah bisa menjawab yakni Waduk Gajah Mungkur. Yupz..betul bgt, perjalanan ku menuju objek wisata Waduk Gajah Mungkur tidak direncanakan samasekali. Pasalnya aku dan sebagian teman-teman Mecarica ingin menjenguk salah satu teman yang sakit Demam Berdarah. Berhubung rumahnya berada di Kabupaten Wonogiri yang terkenal dengan Waduk Gajahmungkur serta lokasi tempat tinggalnya dengan objek wisata Waduk hanya 15 menit. Memacu kita Mecarica untuk mengunjunginya. 

Riski Niwanda alias (Dono) itu nama tmn kita yang sakit DB. Sebenarnya dia sudah pulang dari RS di Solo, namun karena solidaritas tmn2 Mecarica mengharuskan untuk menjenguk dia. Kesan pertama tiba dirumahnya, disambut dengan gaya tubuhnya yang aneh n lucu. Meskipun dia terlihat lebih kurus dari biasanya tapi ciri khas kita untk mengajak bercanda tidak hilang. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan kedua orangtuanya, dan menunggu beberapa jam untuk istirahat stlh perjalanan yang cukup melelahkan Jogja-Wonogiri. 

Kita diberi Hidangan Ikan Bakar, Sambel serta Terancam. Nah..yang membuat  aneh yakni baru pertama kalinya aku makan terancam. Kalo di daerah asalku Kabupaten Kudus, terancam mirip dengan Urap atau Godangan, namun bedanya Terancam zmua bahannya masih mentah sedangkan Godangan bahannya sudah matang. Terancam digunakan sebagai lalapan setelah makan ikan bakar disertai sambel. Maknyus....pkoknya.
Selesai makan kita berinisiatif untk menuju objek Wisata  Waduk Gajahmungkur, berhubung hari sore kita kesana saling berboncengan tanpa menggunakan helm serta tidak membayar tiket...hehehe. Daerah  Objek wisata ini sudah dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat dengan adanya permainan anak-anak, kolam renang serta perahu-perahu. Namun perahu2 tersebut terlihat jarang digunakan, mungkin jarang pengunjung kali??

Selanjutnya kita menuju tempat pengendali aliran air Waduk Gajahmungkur, nah tetep tidak dipungut biaya untuk masuk. Padahal sewaktu hari biasa diwajibkan membayar..hehe. Kita disambut oleh angin yang sepoi-sepoi dari arah waduk, wuih..disana bertengger baja-baja yang besar berwarna merah untuk mengatur keluar dan masuknya air. Sekitar lebih dari 3 desa dikorbankan untuk membuat waduk tersebut dan para penduduk bertransmigrasi ke sumatra, kalimantan dll sesuai program pemerintah sewaktu Orde Baru. Berhubung kita sudah sampai kurang afdol kalo tidak bernarsis ria. Setelah lelah berkeliling area waduk serta bernarsis, kita memutuskan untuk balik ke rumah dono.

Hari semakin sore akhrnya kita berpamitan pada orang tuanya untuk pulang ke Jogja. Perjalanan pulang kita berbeda jalan dengan sewaktu berangkat yang melewati hutan jati, sepi, jalanan berlubang pkoknya harus ekstra hati-hati. Bermodal pengalaman tersebut kita memutuskan lewat jalan yang lebih baik serta ingin silahturahmi ke rumah teman kita lainnya yang tinggal di Kabupaten Klaten. Gunandar,, nah..kita mampir ke rmhnya,,sbnry kita ingin merampok makanan...hhhh. Dirumahnya kita disuguhi sate ayam..maklum tradisi tmn2 siapapun rumahnya yang dikunjungi wajib memberikan makan hehehe. Anehnya setiap rumah teman yang kita singgangi di Kabupaten manapun, orangtuanya selalu menyambut dengan suka cita serta memberikan makanan khas daerahnya. Itulah indahnya Kebersamaan..
Perut kenyang, badan capek uh..kita masih melanjutkan perjalanan ke Jogja sekitar 1 jam lagi. Saat pulang saya berboncengan dengan PAPA Geo..hehe. Perjalanan hari ini menyenangkan bagiku  karena dapat berkunjung ke rumah teman sekelas yang memiliki karakteristik berbeda serta keluarga yang ramah dengan para tamunya. 

Rabu, 14 Maret 2012

Adrenalin di Sungai Elo

Istilah Rafting terdengar asing ditelingaku ketika pertama kali mendengarnya. Rafting adalah olahraga berhubungan dengan air yang berfungsi mengasah adrenalin kita. Nah bermodalkan nekad aku, amin, anez, serta papa geo mengikuti Rafting yang diadakan pada tgl 11 Desember 2010 oleh HMPG (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi). Hanya dengan membayar 90 rb sudah termasuk transport Jogja-Magelang PP serta mengikuti Rafting..cukup murah karena dapat subsidi dari HMPG hehe.
                                "Sblm Menyusuri Sungai Elo"
                                         " Persiapan"
Kita memulai perjalanan dari Jogja dengan naik truk menuju magelang,,sudah biasa bagi kami mahasiswa geo untuk naik truk bersama-sama. Sekitar 1,5 jam perjalanan, tiba juga di Kawasan Rafting di Sungai Elo Kabupaten Magelang. Disana sudah disiapkan rompi pelampung, helm, dayung serta perahu karet yang dipergunakan untuk melakukan Rafting. Setelah mendengarkan instruksi dari instruktur Rafting cara menggunakan dayung serta menghadapi arus yang deras. Akhirnya kita terjun ke medan pertempuran adrenalin, masih teringat dalam 1 perahu karet terdapat lima orang, sewaktu itu dalam 1 perahu yakni aku, anes, ratih, ana kusuma, m.arif fauzif (alias P.taka) serta 1 instruktur pendamping.
                               " Berangkat Menyusuri Sungai"
 Kita sudah duduk ditempat masing-masing untuk bersiap melawan arus yang berkelok-kelok, deras dan kuat. Setiap ada arus yang deras kita langsung mengangkat dayung sambil berteriak..upz lupa dalam perahu kita harus menjaga keseimbangan tubuh. Maklum terkadang medan yang berkelok-kelok membuat posisi jadi tidak seimbang. Ada kejadian lucu yang sampai saat ini belum aku lupakan yakni..setiap aku ingin jatuh.. bukannya pegangan instruktur tapi pegangan celana atau baju P.Taka..hehe sampai dia marah-marah. Itu reflek saja sebab posisi P.taka ada di depanku sedangkan instruktur duduk paling belakang. Kita sampai pada zona yang arusnya tidak terlalu ganas..nah instruktur mencoba permainan berdiri di pinggir perahu paling lama dengan posisi perahu berputar-putar. Kita setuju pada putaran ke dua aku dan ratih jatuh ke sungai karena kita shock dan belum persiapan.. rasa takut mengantuiku..maklum kedalaman zona tersebut lebih dari 3 meter sapa yang ga takut???. Berhubung aku pakai pelampung dan di bantu banyak teman, aku bisa naik keperahu lagi melanjutkan perjalanan ke hilir sungai. 

Di hilir kita sudah disambut angkutan-angkutan yang menjemput kami menuju tempat start sebelumnya. Setelah mandi, ganti baju dilanjutkan perjalanan pulang ke Jogja dengan naik Truk. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan mengikuti Rafting meskipun pertama kali namun sangat berkesan dan benar-benar memacu adrenalin.

Ketangguhan Gunung Api Purba Nglanggran


Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Glanggran tepatnya di Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DIY menjadi salah satu objek wisata yang kita kunjungi bersama teman Mecarica. Sekitar tanggal 18 Desember 2010 kita memulai perjalanan touring menuju objek wisata tersebut. Kira-kira 2 jam perjalanan yang cukup menyenangkan kita lalui, masih ingat kita melewati jalan naik turun serta melihat pemandangan persawahan dikanan serta kiri jalan. 
                               "Pendopo Glanggeran"
                                      "Together"

Sesampainya di sekretariat objek wisata, kesan pertama disambut dengan ramah oleh pengelola objek wisata. Disana mata kita terpana akan adanya batu2 yang besar serta untuk mencapai puncak harus naik dari bukit satu ke bukit lain. Well.. Perjalanan menapaki Gunung Api Glanggran dimulai dengan para cewek terlebih dahulu untuk berada di depan dengan Ketua Kelas Tercinta si Riki Prasojo (Papa Geo) yang memandu. Medan berbatu serta tanah yang licin sebab diguyur air hujan harus kita lalui, jalan yang sempit hanya cukup 1 orang dengan diapit dua batu besar serta tangga dari kayu kita jejaki. Dengan penuh kesabaran dari bukit satu ke bukit lain..akhirnya berbuah hasil yakni MecaRica sampai Puncak. 
                            "Duh..Gedhe bgt Batunya"
                          "Istirahat sblm Ke Puncak"
Pertama saya injakkan kaki di Puncak Wuih...keren bgt pemandangannya bisa melihat kota Jogja, Klaten, Solo dari Kejauhan. Ternyata Gunung Api  Purba Ngalanggaran memiliki beberapa puncak serta yang ditempati kita adalah salah satu dari puncak tersebut. Di sana kita tidak lupa mengabadikan moment-moment bersama saling bernarsis ria. Ada yang meloncat, bergandengan tangan, membalikkan badan..pkoknya tidak sia-sia pengorbanan menelusuri bukit per bukit. 
                             "Kaka, Sasi, Wili n Aku"
Hari semakin sore berarti waktunya pulang. Dengan perasaan senang kita menuruni bukit, namun jalan yang kita lewati berbeda dengan perjalanan naik. Kita sempat melewati pemukiman penduduk serta melihat aktivitas pertanian yang dikelola penduduk. Senyum ramah mereka kepada pengunjung membuat saya ingin kembali lagi suatu saat ke tempat ini. Beberapa bulan setelah perjalanan kita ke Gunung Api Nglanggaran ada berita bahwa Gunung tersebut mengeluarkan asap belerang ..maklum gunung ini tergolong Gunung Api jadi masih ada sisa-sisa aktivitas vulkanik di dalamnya.
                       " Wiuh..Pemandangannya Mntap"
                            "Kebersamaan Mecarica"
Ketangguhan Gunung Api Purba Nglanggaran menjadi saksi perjalanan teman-teman Mecarica dengan kesabarannya  untuk mencapai puncak secara bersama-sama akan selalu terkenang dibenakku.

Kamis, 01 Maret 2012

Pantai Suing Yang Bersejarah


Suara desiran ombak di 2009 itu masih terdengar di telingaku sampai saat ini menjadi saksi bisu bekas luka yang belum hilang sampai sekarang. Aku lupa tepatnya bulan ke berapa di tahun 2009. Perjalanan ke Pantai pertama kali bersama teman-teman setelah setahun menginjakkan kaki di kota Yogyakarta. Sebenarnya jalan-jalan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dengan persiapan yang cukup matang mulai dari Dome, jagung bakar,indomie dan berbagai keperluan camping lainnya. Berjumlah 18 orang yang ikut camping kali ini termasuk aku sendiri. Objek wisata yang kami kunjungi yakni Pantai Siung letaknya di Kabupaten Gunung Kidul yakni salah satu Kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami berdelapan belas saling berboncengan laki-laki dan perempuan. Melewati jalan yang berkelok-kelok serta tebing-tebing untuk menuju Pantai yang dituju. Akhirnya tepat magrib kita sampai, disambut dengan suara desiran ombak dan suasana gelap. Maklum Pantai di Gunung Kidul belum semua terpasang aliran listrik itulah kelemahan dari objek wisata Pantai di Gunung Kidul yang begitu indah tidak kalah dengan Pantai Kuta  Bali namun belum terjamah listrik. 
                               (Aku, Anes, dan Amin)
Baiklah teman-teman cowok mencari posisi yang cocok untuk tempat mendirikan tenda, seketika tenda berdiri dengan perjuangan melawan angin laut yang cukup kuat menghantam para lelaki perkasa mecarica (hehehe) yang mendirikan tenda, akhirnya usaha itu berbuih hasil yang memuaskan yakni 2 tenda bertengger kuat di lautan pasir putih menghadap laut lepas. Gantian para cewek-cewek mecarica menyiapkan makanan dengan memasak indomie yang telah di bawa sebagai bekal. Hal yang membuat kangeen sampai sekarang dengan camping bersama yakni teman-teman pada berebut mie rebus yang rasanya tidak karuan tidak peduli cowok atau cewek berebut mendapatkan mie yang paling banyak. Sepertinya rasa lapar dapat menghalalkan segala cara untuk memenuhi nyanyian perut yang gundah gulana. Selanjutnya yakni membakar jagung bakar sambil kita foto-foto dengan teman-teman, dengan diselingi salah satu teman memainkan gitar dan bernyanyi bersama-sama. Senang, suka cita, bercanda tawa bersama-sama tanpa memperdulikan tenda sebelah yang ngomel dengan ulah teman-teman hehehe. 
                         * Bakar Jagung with Ari*
                           (Kebersamaan Tmn2 Mecarica)
Sepersekian detik, menit, jam yang berlalu dengan suka cita tiba-tiba tenggelam dengan musibah yang menimpaku. Kejadian itu dimulai ketika aku dan teman-teman ingin mencari tempat untuk salat dan membuang hadas kecil. Di perjalanan ke sana karena gelap gulita aku tidak melihat kalau ada selokan di depanku..tiba-tiba saja aku terperosok jatuh dengan posisi tulang kering bersentuhan dengan sudut selokan.. seketika aku tidak merasakan sakit. Aku tahu tulang keringku berdarah dan tidak berfikir separah itu karena hanya luka kecil biasa. Ternyata semakin lama semakin mengalir terus darahnya..aku dan teman semakin panik..ada apa dengan kakiku kali ini???tolong jangan menyusahkan aku lagi..tolong..? ternyata kulitku sobek sampai menembus tulang kering hingga tulangnya keliatan.. Subhanallah..rasanya sakit...sekali, aku hanya ingat bapak dan ibu dirumah. Temanku panik aku juga demikian..beruntung sekali diriku ini disaat kejadian ternyata ada Banser Kabupaten Gunung Kidul yang lagi Diklat untuk mengajari siswa-siswa Sekolah Menengah Atas. Langsung ketua Banser membawaku masuk Ambulans dan menuju Puskesmas terdekat.. selama perjalanan darah selalu mengalir..disebelahku hanya temanku Amin dan Imanul yang selalu setia menungguku. Aku hanya bisa diam tidak mampu berkata-kata...seketika Mas Supir Ambulans mengajakku berbicara dan kedua temanku agar mencairkan suasana ketegengan akibat kakiku yang selalu mengeluarkan darah yang tidak kunjung berhenti.
Tibalah aku di Puskesmas terdekat, itu saja kira-kira berjarak sekitar kurang lebih 11 km..cukup jauh memang maklum jauh dari ibukota Kabupaten. Disana aku disambut oleh para perawat dan dokter yang sedang berjaga..seingatku tepat pukul 21.00 tiba di Puskesmas. Di sana aku langsung dibawa ke ruang bedah...masih ingat dalam benakku dokter dan perawat sibuk menyiapkan peralatan untuk menjahit luka yang diderita. Ada 3 suntikan anestesi di hujamkan pada lukaku..aku hanya diam dan menahan rasa sakit itu dengan membaca istigfar (Astagfirullah..) dalam hati sebanyak mungkin. Baiklah itu pertama kalinya dalam hidupku untuk dijahit. Ternyata rasanya seperti ini karena aku hanya mendengarkan cerita dari kakakku lelaki yang sudah 3 kali dijahit sewaktu masih Taman kanak-kanak karena kenakalannya. Dan itu terjadi padaku yang waktu itu masih berusia 19 tahun. Dokter wanita muda tersebut bertanya padaku terasa sakit tidak mbx?? Aku hanya menggeleng tidak dapat bicara..dan akhirnya jarum jahit dihujamkan pada lukaku yang sobek...aku merasakan tarikan benang lirih, linu dan aku biarkan untuk tidak melihat tindakan dokter kepadaku. Setelah semua selesai..Bapak Ketua Banser mengajak aku ngobrol dan bercanda..sedikit mengurangi perasaan tegang akan eksekusi tadi.
Akhirnya Ambulans membawa kembali ke Pantai Siung untuk bertemu teman-teman. Malam itu aku tidur di tempat tinggal penjaga Pantai Siung. Tempat berteduh yang baik untuk ukuran kondisi pantai yang saat itu diguyur hujan..ada sebagian teman yang tetap stay di tenda meskipun hujan. Aku salut dengan mereka teman-teman mecarica dan sebagian ada yang menemaniku dirumah Penjaga Pantai sekaligus sebagai warung makan. Dalam hati aku berkata ..Ya Allah kenapa aku selalu merepotkan teman-teman baikku..teman yang selalu mendampingiku..ijinkan aku untuk tidak merepotkan mereka. Baiklah aku berusaha untuk bangkit meskipun masih sakit tapi aku tidak mau merepotkan lagi..cukup..cukup..dengan kejadian tadi malam. Kita berfoto-foto dengan latar Pantai Siung pada siang hari bersama teman-teman, sekitar pukul 10.00 aku dan teman-teman berpamitan dengan para Banser dan Bapak Penjaga Warung untuk mengucapkan terima kasih atas kejadian tadi malam. 
                      (LiHat  PemandanganPantai Siung)
Cukup memalukan dan mengiris hati ketika aku menulis cerita ini ada perasaan yang sakit sekaligus penyesalan kepada teman-teman yang baik..Maafin icha..yang telah merusak kesenangan kalian..Terima kasih yang tidak terkira pada temanku Amin dan Imanul yang bersedia menemani sewaktu di Ambulans...Maka Pantai Siung menjadi saksi sejarah bekas jahitan kecil berwarna coklat yang belum hilang. Inilah kenang-kenangan perjalananku di Pantai Siung selain suka cita bersama teman-teman. Pantai Siung merupakan Pantai yang eksotis dengan pasir putih dan tebing yang indah untuk dinikmati bagi liburan..ini hanyalah sedikit cerita tanpa mengurangi keindahan Pantai Siung serta wajib dikunjungi bagi kalian pencinta pantai dan travelling berkunjung ke Pantai ini...dengan keramahan penghuninya.
                          *Kebersamaan Tmn2 Mecarica*
Hikmah yang berharga ingin aku beritahukan kepada pembaca yakni kemanapun kalian pergi restu orang tua sangat diperlukan dan berhati-hati dalam setiap melangkah..karena kita tidak tahu di depan kita ada sesuatu yang dapat menghasilkan bencana bagi diri sendiri.

Rabu, 29 Februari 2012

Irama Nyanyian Dieng (Wonosobo)

Semua petualangan-petualanganku di mulai dari KKL 1 yakni di Dataran Tinggi Dieng Wonosobo. Jujur saja aku hanyalah seseorang yang tidak menyukai petualangan atau sesuatu yang berbau alam, maklum aku tergolong anak Rumahan. Disaat aku harus meneruskan ke Perguruan Tinggi dengan jurusan yang berhubungan dengan alam. Awalnya aku kaget setengah mati kok seperti ini sistem perkuliahannya mewajibkan setiap semester agar KKL. Baik itulah pilihanku ..lucu sekali kalo Pendidikan Geografi adalah piihanku. Tepatnya adalah pilihan kakak ku Mz Uli, dia yang menyarankan jurusan ini. Dia yang membujukkku dengan buaian-buaian cerita tentang petualangan dia,  akhirnya aku selalu mengikuti kata-kata orang terdekat tanpa berfikir panjang untuk ke depan. Karena yang aku tahu, tidak mungkin kakakku sendiri menjerumuskan adiknya sendiri.
Akhirnya hari itu tiba juga keberangkatan ke Dieng, namun karena suatu hal yang menyedihkan kehilangan seseorang mengharuskan aku tidak dapat ikut dengan  teman-teman Mecarica. Aku mengikuti rombongan kelas lain, mungkin agak sedikit kaku dan canggung namun itulah aku harus bisa beradaptasi dengan siapapun dan dimanapun tanpa harus dengan teman sekelas. Tibalah aku di Dieng Plateau sambutan itu datang dari Gapura yang seketika tersenyum menyambut rombongan kita dari UNY. Sempat aku bertemu dengan teman-teman kelas, terbesit kesedihan dihatiku mengapa aku tidak dapat merasakan kebersamaan dengan teman kelas, namun aku hanya bisa tersenyum.
                         * Pintu Gerbang Wisata Dieng*
Malam datang, hawa sejuk dieng merasuk sampai ke Tulang. Inilah malam penting dalam hidupku, malam yang merubah statment orang tentang diriku yang sesungguhnya. Dieng berada di lereng pegunungan Serayu..hawa dingin di gunung mungkin sudah biasa bagi sebagian orang begitu pula diriku. Namun entah mengapa tiba-tiba tulang ini terasa kaku dan sulit digerakan..aku mencoba untuk berkata dengan tulangku..Ada apa dengan kamu tulang?mengapa kamu tidak dapat aku gerakkan?. Seketika itu aku sempat pingsan, sebenarnya aku sadar banyak orang yang memanggilku namun keinginan untuk bangkit terasa berat seperti ada batu besar dihadapanku. Pertama kali bagiku aku tidur dengan dibawah tubuhku terdapat bara arang yang menyembul..akhirnya aku sadar dengan bantuan Dosen Praktek Lapangan yang berpengalaman yakni Bapak Udia Hadori. Beliau yang membatu kakiku untuk bergerak, memijat, menggerakkan pelan-pelan serta mengatakan bahwa aku menderita “ALERGI DINGIN”. Sepersekian detik aku tersentak kok bisa??aku bukan seperti itu ..tulangku sehat dan kuat (Pernyataan anak kecil hehehe). Malam itu suhu di Dieng 13 derajat Celcius. Ternyata tempurung kakiku yang kanan ketika terkena hawa dingin langsung merengek kesakitan dan itu terjadi sampai sekarang..hati ini seketika merasa sebal dengan diri sendiri..(selalu merepotkan orang lain). 
                                 Danau di Dieng

Setelah berkeliling daerah Dieng serta mendengarkan penjelasan dosen dari mulai terbentuknya jalur Pegunungan Serayu serta adanya gunung dieng purba serta masih adanya aktivitas vulkanik dll. Membuka pengetahuanku akan teori-teori yang aku dapat di bangku kuliah dan inilah prakteknya untuk menerjemahkan istilah-istilah dalam buku panduan KKL 1 Dieng. Mencoba bangkit serta membiarkan tubuh ini beradaptasi dengan suhu udara di Dieng aku merangkak menuju Balkon Hotel untuk melihat pemandangan Dieng Plateau. Merasakan aroma udara dingin serta mencoba untuk mendengarkan nyanyian-nyanyian udara yang saling bertautan menambah rasa kegaguman ini terhadap salah satu ciptaan Tuhan. Mengamati aktivitas penduduk sekitar yang mencari sesuap nasi dengan bertani kentang, melihat pakaian mereka yang serba tebal serta wajah merah merona tercermin dari pipi gadis-gadis Dieng begitu lembut, cantik,polos dengan keramahan mereka pada pengunjung objek wisata Dieng Plateau.

Sudut kecil di Bromo


Perjalanan melelahkan,meletihkan aku mulai dari Yogyakarta. Kota yang terkenal dengan beragam budaya, kota pelajar serta keramah tamahan penduduknya. Awalnya perjalanan ini meragukan bagiku yang belum mendapat restu orangtua. Namun dengan keyakinan dan kemantapan akhirnya aku mendapat ijin dari kedua orangtuaku meskipun dengan beberapa syarat yang harus dipenuhi setelah berlibur. Suara deruan kereta api dipagi hari serta suasana yang tergolong sepi distasiun meningkatkan adrenalinku untuk berpetualang. Lucu sekali ketika kata berpetualang aku sematkan pada diriku yang tergolong seseorang yang tidak menyukai perjalanan jauh. Namun dengan teman-teman yang memiliki hobi bertualang mendorong aku yang selalu berada di zona aman ingin seperti mereka yang mempunyai banyak pengalaman akan perjalanan bertualang.
Dalam gerbong kereta yang berderu-deru sambil melihat pemandangan luar yang menakjubkan dari mulai perbukitan, rumah-rumah penduduk, jalan raya yang sesak oleh kendaraan serta berbgai macam fenomena lainya. Hal yang paling aku sukai yakni ketika kereta melewati jembatan, suara gesekan rel kereta dengan struktur jembatan membuat suasana sedikit gaduh serta banyaknya penjual yang berlalu lalang bebas menjajakan barang jualannya yang terkadang diacuhakan oleh para penumpang, itulah keunikan perjalanan di kereta. Meskipun bersama teman- teman hanya menaiki kereta ekonomi, kebersamaan serta canda tawa mereka membuat hati senang. Beban perjalanan 8 jam tidak membuat kita merasakan lamanya menunggu sampai Kabupaten Purbolinggo.
Sesampainya disana kita sudah dihadang oleh beberapa sopir angkutan, kenek serta petugas keamanan stasiun ilegal (preman) kita sebut saja Satpam Ilegal. Beberapa dari teman yang sudah paham tabiat satpam ilegal itu langsung sigap untuk berbincang-bincang terkait misi perjalanan kami ke Bromo, sebagian dari kita melanjutkan laporan kepada Allah SWT di Masjid Agung Purbolinggo yang letaknya beberapa meter dari stasiun untuk salat asar dan magrib. Setelah lama bernegosiasi terkait harga per-orang untuk perjalanan ke Bromo akhirnya di putuskan setiap anak membayar 170 ribu, itu cukup murah dengan 2 malam menginap dan menyewa jeep menuju puncak serta kawah bromo.
Petualangan dimulai dengan menumpang angkutan kota setipe L-300 dengan penumpang 23 orang berdesakan namun cukup menyenangkan hehe. Sebelum menuju ke bromo kita disambut dengan ucapan selamat datang dari rekan Satpam ilegal berupa tradisi yang unik (hehe). Tidak terasa 1,5 jam lebih kita melakukan perjalanan meskipun dengan sopir yang seenaknya sendiri menyetir tanpa melihat seberapa berliku-liku belokan jalanan menuju kawasan bromo dengan jurang dimana-mana. Sekitar pukul 22.30 kita sampai dihotel dan disambut hawa dingin gunung bromo. Seketika itu alergi dingin yang kuderita mulai berteriak ingin keluar dari dalam diriku...teringat pesan teman cara mengatasi alergi dingin dengan membiasakan tidak menggunakan jaket untuk penyesuaian tubuh pada suhu dingin, akhirnya tubuhku berkompromi denganku.Yang paling membuatku kaget yakni hotel yang kita tempati lumayan bagus jauh dari perkiraan perjalanan kita yang berniat “Gembel” namun kenyataannya “Gembel Elit” dengan kamar mandi disetiap lantai serta spring bed sebagai alas tidurnya. Sebelum tidur kita memasak pop mie bersama-sama dan minum kopi untuk mengisi kekosongan perut.
                                  Di Balkon Hotel
Pukul 4 pagi kita dibangunkan untuk bersama-sama melihat sunrise dipuncak bromo dengan menaiki Jeep. Awalnya aku merasa yakin bisa untuk sampai puncak namun sesuatu yang tidak aku inginkan dan harapkan muncul, perut terasa tercabik-cabik dan mata berkunang-kunang seperti kejadian beberapa tahun lalu di SMA setelah lari 3 putaran lapangan menghantuiku. Aku tahu kondisi tubuhku, aku tahu keadaan fisikku yang tidak bersahabat waktu itu, dengan berfikir dan memantapkan hati apabila aku melanjutkan perjalanan ke puncak akan merepotkan perjalanan teman-teman yang lain, Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti beristirahat menstabilkan semua organ tubuhku agar kuat sampai bawah...dalam benakku hanya berfikir “Janganlah membuat perjalanan menyenangkan teman-teman menjadi tidak bermakna karena aku”. 
                               Menuju Penanjakan
Setelah lebih dari 1 jam menstabilkan organ tubuh, aku bertemu dengan salah satu pendaki yang baik hati hanya bermodal sama-sama satu daerah yakni Yogyakarta dia menawarkan bantuan, dengan mendampingiku selama perjalanan ke bawah. Kita sedikit berbincang-bincang untuk mengenal satu sma lain, mereka adalah sekelompok pekerja Kontraktor WIKA yang sedang mengadakan liburan di bromo. Dengan gelas kecil minuman hangat berupa teh manis seketika tubuhku berkompromi lagi. Selanjutnya kita melanjutkan perjalanan ke kawah bromo...meskipun medannya lebih berat dari menaiki puncak...aku mantapkan hati dan tubuhku agar berkompromi untuk sanggup mendaki kawah bromo. Aku yakin bisa meski menahan rasa sakit diperut sesekali istirahat untuk meneguk minuman..setapak demi setapak aku menaiki tangga demi tangga dan akhirnya aku sampai kawah bromo...I can do it.Semula tidak percaya aku bisa menaiki dengan menahan tubuh yang tidak bersahabat, aku seketika terdiam mencoba merenung beberapa saat. Sungguh indah pemandangan dari kawah bromo dengan hamparan pasir yang berkelok-kelok sesuai arah angin, serta betapa kecil para pendaki kawah dari bawah...Keren..Keren..Keren hanya itu yang aku katakan dalam hati.
                  *Dibelakang asap Kawah Gunung Bromo*
Sekitar 1 jam kita berada diatas kawah bromo yang beberapa bulan lalu ber-erupsi sehingga mengakibatkan kawah bromo semakin dalam. Setelah berfoto-foto memutuskan untuk turun ke bawah karena jatah menyewa jeep sampai pukul 09.00 WIB. Kita bersama-sama turun dengan sesekali berfoto-foto, akhirnya sampai hotel serta aku mengetahui sebab dari tidak bersahabat tubuhku ini karena siklus bulanan seorang wanita. Baik seketika aku lemas dan mencoba menstabilkan tubuhku agar tidak lemah. Setelah tidur sekitar 2 jam tubuhku bersahabat kembali dan keinginan untuk jalan-jalan menyusuri kawasan bromo kembali terbesit. Bersama beberapa teman kita berjalan diarea hotel sambil sesekali berfoto-foto sambil menunggu sunsite dari salah satu bukit yang memiliki pemandangan bagus. Namun aku memutuskan untuk keluar dari kebersamaan teman-teman..menuju hotel tepatnya dilantai 2, keinginan untuk meyendiri merenungi apa saja hari ini yang sudah aku dapat di kawasan bromo...melihat  kawasan bromo yang dikelilingi perbukitan, hamparan kebun sawi, dan beberapa aktivitas penduduk sekitar. 
                        *Padang Ilalang di Bromo*
                        *Dibelakang itu Gunung Batok*
Sesuatu yang aku kagumi adalah ketika aku melihat pemandangan yang tidak lazim di dapat dari liburan lainnya yakni tepat di salah satu sudut aku melihat keserhanaan keluarga yang membuat penghangat ruangan dari tungku arang ketika di negara-negara maju sudah sejak lama mendesain rumah dengan pemanas ruangan namun di negara kita tetap melestarikan kearifan lokal tungku arang atau negara kita yang tertinggal ??, masing-masing pembaca memiliki jawabannya sendiri. 
                             *Kebersamaan Mecarica*
                       *Tampak Depan Pura 1 di Bromo*
                            Pintu Gerbang Pura
Melihat fenomena yaitu  kesabaran seorang kakak yang mengajari  adiknya membaca, menulis kira-kira berumur 9 tahun seorang gadis yang berstatus kakak mengajari adiknya berumur 6 tahun membaca, dibalik keterbatasan fasilitas yang mereka miliki antusias belajar mereka cukup tinggi. Aku hanya tersenyum dan memberikan acungan jembol pada si kakak dan si adik. Pendidikan itu penting selalu yang digembar-gemborkan Pemerintah, masyarakat dan itu benar adanya. Itulah perjalananku ke bromo yang aku maknai berbeda dari sudut pandang diriku. Disudut kecil Bromo aku menemukan siapa diriku yang sebenarnya dan apa yang harus aku lakukan selanjutnya.