Tampilkan postingan dengan label TraVelliNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TraVelliNG. Tampilkan semua postingan
Jumat, 13 April 2012
Kamis, 15 Maret 2012
Pemandian Para Putri Keraton Tamansari Yogyakarta
Tamansari biasanya identik dengan tempat pemandian para putri dan selir Raja Jawa di Keraton Ngajogjakarta. Yupz..betul bgt, tempat itu masih dilestarikan sampai sekarang sebagai salah satu daya tarik objek wisata di DIY. Perjalanan ini sebenarnya tidak direncanakan sebelumnya..berhubung wekeed tepatnya tgl 26 Maret 2011 serta ga da rutinitas. Kita para cewek Kos 16 B meskipun hanya 4 orang yakni aku, mbx novi, anes dan mega berencana mengunjungi tempat tersebut. Sekitar 20 menit dari kos kami di JL.Gejayan dan smbil berboncengan kita menuju Taman Sari.
"Pintu Gerbang Tamansari"
"Salah Satu Sudut Di Tamansari"Meskipun aku sudah 2 tahun lbh di Jogja, namun belum ada waktu untuk singgah ke Tamansari. Aku lebih suka mengunjungi objek wisata yang ada di DIY bersama tmn2 banyak cz lebih seru dan asyik..hehehe. Sebelum masuk kita harus membeli tiket masuk yang cukup murah sekitar 3000 rupiah. Berhubung mbx Novi sudah pernah kesana, jadi dia bertindak sebagai Guide kami.
" Anes, Aku n Mega"
" Kolam Pemandian Raja n Selir"
Dia menerangkan setiap jengkal sejarah dan arsitektur di Taman Sari dengan B.Inggris diselingi B.Indonesia seru.. bgt. Ketika masuk pertama kali kita akan diperlihatkan kolam pemandian yang dibagi menjadi 2 yakni kanan dan kiri. Nah di sisi kiri Kolam ada sebuah balkon tertutup yang digunakan Raja Jawa untuk melemparkan bunga kantil ke kolam yang berisi selir-selir untuk memperebutkan bunga kantil. Siapapun yang mendapatkan bunga kantil berkesempatan untuk mandi bersama Raja dikolam khusus letaknya disisi paling barat dari Balkon. Suatu kehormatan besar bagi para selir yang dapat mandi bersama Raja. Pada sisi paling Timur terdapat ruangan ganti pakaian bagi para selir Raja. Sesudah puas mendengarkan cerita mbx Novi kita lanjutkan ke area berikutnya yaitu suatu bangunan Tembok Tinggi Besar Berwarna Putih yang berhiaskan relief yang Indah.
"Pengrajin Di Kampung Batik"
Selanjutnya kita melewati kampung Batik untuk menuju Benteng Pertahanan. Benteng tersebut terdiri dari lorong-lorong yang gelap serta ditengah-tengahnya ada kolam kecil. Untuk menuju tengah kolam terdapat tangga dari 5 arah yang dipercaya simbol atau mengisyaratkan salat 5 waktu. Setelah itu kita menuju bangunan kuno berupa puing-puing tua. Disana saya dapat melihat aktivitas warga Jogja yang berlalu-lalang sebab lokasinya berada di daerah yang lebih tinggi dari Jalan Raya.
" Salah satu sudut Lorong"
Berhubung waktu sudah sore dan terlihat mendung, kita memutuskan untuk pulang ke kos. Well...sesudah puas mengunjungi Tamansari, kita berniat melanjtkan petualangan-petualangan yang lebih seru, asyik, murah serta berkesan di sekitar DIY.
Sepoi-Sepoi di Waduk Gajah Mungkur (Wonogiri)
Ingat pelajaran IPS sewaktu di SD yaitu apa waduk terbesar di Jawa Tengah? Pasti semua sudah bisa menjawab yakni Waduk Gajah Mungkur. Yupz..betul bgt, perjalanan ku menuju objek wisata Waduk Gajah Mungkur tidak direncanakan samasekali. Pasalnya aku dan sebagian teman-teman Mecarica ingin menjenguk salah satu teman yang sakit Demam Berdarah. Berhubung rumahnya berada di Kabupaten Wonogiri yang terkenal dengan Waduk Gajahmungkur serta lokasi tempat tinggalnya dengan objek wisata Waduk hanya 15 menit. Memacu kita Mecarica untuk mengunjunginya.
Riski Niwanda alias (Dono) itu nama tmn kita yang sakit DB. Sebenarnya dia sudah pulang dari RS di Solo, namun karena solidaritas tmn2 Mecarica mengharuskan untuk menjenguk dia. Kesan pertama tiba dirumahnya, disambut dengan gaya tubuhnya yang aneh n lucu. Meskipun dia terlihat lebih kurus dari biasanya tapi ciri khas kita untk mengajak bercanda tidak hilang. Setelah berbincang-bincang sebentar dengan kedua orangtuanya, dan menunggu beberapa jam untuk istirahat stlh perjalanan yang cukup melelahkan Jogja-Wonogiri.
Kita diberi Hidangan Ikan Bakar, Sambel serta Terancam. Nah..yang membuat aneh yakni baru pertama kalinya aku makan terancam. Kalo di daerah asalku Kabupaten Kudus, terancam mirip dengan Urap atau Godangan, namun bedanya Terancam zmua bahannya masih mentah sedangkan Godangan bahannya sudah matang. Terancam digunakan sebagai lalapan setelah makan ikan bakar disertai sambel. Maknyus....pkoknya.
Selesai makan kita berinisiatif untk menuju objek Wisata Waduk Gajahmungkur, berhubung hari sore kita kesana saling berboncengan tanpa menggunakan helm serta tidak membayar tiket...hehehe. Daerah Objek wisata ini sudah dikembangkan oleh pemerintah daerah setempat dengan adanya permainan anak-anak, kolam renang serta perahu-perahu. Namun perahu2 tersebut terlihat jarang digunakan, mungkin jarang pengunjung kali??
Selanjutnya kita menuju tempat pengendali aliran air Waduk Gajahmungkur, nah tetep tidak dipungut biaya untuk masuk. Padahal sewaktu hari biasa diwajibkan membayar..hehe. Kita disambut oleh angin yang sepoi-sepoi dari arah waduk, wuih..disana bertengger baja-baja yang besar berwarna merah untuk mengatur keluar dan masuknya air. Sekitar lebih dari 3 desa dikorbankan untuk membuat waduk tersebut dan para penduduk bertransmigrasi ke sumatra, kalimantan dll sesuai program pemerintah sewaktu Orde Baru. Berhubung kita sudah sampai kurang afdol kalo tidak bernarsis ria. Setelah lelah berkeliling area waduk serta bernarsis, kita memutuskan untuk balik ke rumah dono.
Hari semakin sore akhrnya kita berpamitan pada orang tuanya untuk pulang ke Jogja. Perjalanan pulang kita berbeda jalan dengan sewaktu berangkat yang melewati hutan jati, sepi, jalanan berlubang pkoknya harus ekstra hati-hati. Bermodal pengalaman tersebut kita memutuskan lewat jalan yang lebih baik serta ingin silahturahmi ke rumah teman kita lainnya yang tinggal di Kabupaten Klaten. Gunandar,, nah..kita mampir ke rmhnya,,sbnry kita ingin merampok makanan...hhhh. Dirumahnya kita disuguhi sate ayam..maklum tradisi tmn2 siapapun rumahnya yang dikunjungi wajib memberikan makan hehehe. Anehnya setiap rumah teman yang kita singgangi di Kabupaten manapun, orangtuanya selalu menyambut dengan suka cita serta memberikan makanan khas daerahnya. Itulah indahnya Kebersamaan..
Perut kenyang, badan capek uh..kita masih melanjutkan perjalanan ke Jogja sekitar 1 jam lagi. Saat pulang saya berboncengan dengan PAPA Geo..hehe. Perjalanan hari ini menyenangkan bagiku karena dapat berkunjung ke rumah teman sekelas yang memiliki karakteristik berbeda serta keluarga yang ramah dengan para tamunya.
Rabu, 14 Maret 2012
Adrenalin di Sungai Elo
Istilah Rafting terdengar asing ditelingaku ketika pertama kali mendengarnya. Rafting adalah olahraga berhubungan dengan air yang berfungsi mengasah adrenalin kita. Nah bermodalkan nekad aku, amin, anez, serta papa geo mengikuti Rafting yang diadakan pada tgl 11 Desember 2010 oleh HMPG (Himpunan Mahasiswa Pendidikan Geografi). Hanya dengan membayar 90 rb sudah termasuk transport Jogja-Magelang PP serta mengikuti Rafting..cukup murah karena dapat subsidi dari HMPG hehe.
"Sblm Menyusuri Sungai Elo"
" Persiapan"
Kita memulai perjalanan dari Jogja dengan naik truk menuju magelang,,sudah biasa bagi kami mahasiswa geo untuk naik truk bersama-sama. Sekitar 1,5 jam perjalanan, tiba juga di Kawasan Rafting di Sungai Elo Kabupaten Magelang. Disana sudah disiapkan rompi pelampung, helm, dayung serta perahu karet yang dipergunakan untuk melakukan Rafting. Setelah mendengarkan instruksi dari instruktur Rafting cara menggunakan dayung serta menghadapi arus yang deras. Akhirnya kita terjun ke medan pertempuran adrenalin, masih teringat dalam 1 perahu karet terdapat lima orang, sewaktu itu dalam 1 perahu yakni aku, anes, ratih, ana kusuma, m.arif fauzif (alias P.taka) serta 1 instruktur pendamping.
" Berangkat Menyusuri Sungai"
Kita sudah duduk ditempat masing-masing untuk bersiap melawan arus yang berkelok-kelok, deras dan kuat. Setiap ada arus yang deras kita langsung mengangkat dayung sambil berteriak..upz lupa dalam perahu kita harus menjaga keseimbangan tubuh. Maklum terkadang medan yang berkelok-kelok membuat posisi jadi tidak seimbang. Ada kejadian lucu yang sampai saat ini belum aku lupakan yakni..setiap aku ingin jatuh.. bukannya pegangan instruktur tapi pegangan celana atau baju P.Taka..hehe sampai dia marah-marah. Itu reflek saja sebab posisi P.taka ada di depanku sedangkan instruktur duduk paling belakang. Kita sampai pada zona yang arusnya tidak terlalu ganas..nah instruktur mencoba permainan berdiri di pinggir perahu paling lama dengan posisi perahu berputar-putar. Kita setuju pada putaran ke dua aku dan ratih jatuh ke sungai karena kita shock dan belum persiapan.. rasa takut mengantuiku..maklum kedalaman zona tersebut lebih dari 3 meter sapa yang ga takut???. Berhubung aku pakai pelampung dan di bantu banyak teman, aku bisa naik keperahu lagi melanjutkan perjalanan ke hilir sungai.
Di hilir kita sudah disambut angkutan-angkutan yang menjemput kami menuju tempat start sebelumnya. Setelah mandi, ganti baju dilanjutkan perjalanan pulang ke Jogja dengan naik Truk. Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan mengikuti Rafting meskipun pertama kali namun sangat berkesan dan benar-benar memacu adrenalin.
Ketangguhan Gunung Api Purba Nglanggran
Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Glanggran tepatnya di Kabupaten Gunung Kidul Provinsi DIY menjadi salah satu objek wisata yang kita kunjungi bersama teman Mecarica. Sekitar tanggal 18 Desember 2010 kita memulai perjalanan touring menuju objek wisata tersebut. Kira-kira 2 jam perjalanan yang cukup menyenangkan kita lalui, masih ingat kita melewati jalan naik turun serta melihat pemandangan persawahan dikanan serta kiri jalan.
"Pendopo Glanggeran"
"Together"
Sesampainya di sekretariat objek wisata, kesan pertama disambut dengan ramah oleh pengelola objek wisata. Disana mata kita terpana akan adanya batu2 yang besar serta untuk mencapai puncak harus naik dari bukit satu ke bukit lain. Well.. Perjalanan menapaki Gunung Api Glanggran dimulai dengan para cewek terlebih dahulu untuk berada di depan dengan Ketua Kelas Tercinta si Riki Prasojo (Papa Geo) yang memandu. Medan berbatu serta tanah yang licin sebab diguyur air hujan harus kita lalui, jalan yang sempit hanya cukup 1 orang dengan diapit dua batu besar serta tangga dari kayu kita jejaki. Dengan penuh kesabaran dari bukit satu ke bukit lain..akhirnya berbuah hasil yakni MecaRica sampai Puncak.
"Duh..Gedhe bgt Batunya"
"Istirahat sblm Ke Puncak"
Pertama saya injakkan kaki di Puncak Wuih...keren bgt pemandangannya bisa melihat kota Jogja, Klaten, Solo dari Kejauhan. Ternyata Gunung Api Purba Ngalanggaran memiliki beberapa puncak serta yang ditempati kita adalah salah satu dari puncak tersebut. Di sana kita tidak lupa mengabadikan moment-moment bersama saling bernarsis ria. Ada yang meloncat, bergandengan tangan, membalikkan badan..pkoknya tidak sia-sia pengorbanan menelusuri bukit per bukit.
"Kaka, Sasi, Wili n Aku"
Hari semakin sore berarti waktunya pulang. Dengan perasaan senang kita menuruni bukit, namun jalan yang kita lewati berbeda dengan perjalanan naik. Kita sempat melewati pemukiman penduduk serta melihat aktivitas pertanian yang dikelola penduduk. Senyum ramah mereka kepada pengunjung membuat saya ingin kembali lagi suatu saat ke tempat ini. Beberapa bulan setelah perjalanan kita ke Gunung Api Nglanggaran ada berita bahwa Gunung tersebut mengeluarkan asap belerang ..maklum gunung ini tergolong Gunung Api jadi masih ada sisa-sisa aktivitas vulkanik di dalamnya.
" Wiuh..Pemandangannya Mntap"
"Kebersamaan Mecarica"
Ketangguhan Gunung Api Purba Nglanggaran menjadi saksi perjalanan teman-teman Mecarica dengan kesabarannya untuk mencapai puncak secara bersama-sama akan selalu terkenang dibenakku.
Rabu, 29 Februari 2012
ZoNa KeaRiFan Lokal (Suku Baduy di ProvInsi Banten)
Suku Baduy merupakan salah satu suku di Indonesia yang masih tetap mempertahankan karakteristiknya sampai sekarang. Terletak di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Perjalanan dimulai ketika aku diwajibkan untuk mengikuti KKL III (Kuliah Kerja Lapangan ke III) yakni untuk meneliti kondisi sosial,bidaya,serta karkteristik fisik ataupun alam yang dihuni oleh suku baduy.
Foto dengan Baduy Dalam..
Foto dengan Baduy Dalam..
Awal Juni 2011 aku mulai perjalanan dari kota Yogyakarta sekitar pukul 15.00 kita berangkat menuju Jakarta. Teman duduk sebelahku yakni Riyantiningsih, selama perjalanan kita banyak mengobrol dan bersenda gurau dengan teman-teman 1 bus..tentu dengan teman MecaRica. Hal yang menjadi kenangan sampai sekarang yakni selama perjalanan kita selalu membuat bahan lelucon, yakni temanku yang bernama Gunandar. Dia selalu dijadikan objek tertawaan temanku satu kelas, meskipun dalam hati aku merasa kasian namun aku menikmati betul momen-momen bercanda tawa dengan teman 1 bus setelah 2 minggu kemarin kita bertempur melawan ujian semester. Malam tiba setelah lelah bercanda serta beristirahat di rumah makan untuk rehat sejenak akhirnya sedikit demi sedikit suara-suara teman mulai hilang karena mereka sudah pergi ke dunia impian.
anak suku baduy laur
anak suku baduy laur
Sekitar pukul 08.00 kita sampai dikompleks suku baduy..sebagai ucapan selamat datang kita disuguhi tugu besar berada di tengah-tengah berupa patung masyarakat badui. Seketika itu kita menuju pendopo untuk meletakkan barang bawaan kita dan bersiap menjelajah perkampungan baduy. Disana kita disambut dengan antusias dan baik oleh masyarakat badui. Suku baduy dibagi menjadi 2 suku yakni baduy dalam dan baduy luar. Masyarakat baduy dalam terdiri dari 3 kampung, sedangkan baduy luar terdiri dari 11 kampung.
Dibelakang ada lumbung Padi suku Baduy Luar
Selain itu terdapat banyak perbedaan dari mulai pakaian, jenis rumah, bahasa, dan kebiasaan sehari-hari yang cukup kontras pada suku baduy. Misalnya : baduy dalam :berpakaian serba putih dan tidak diperbolehkan menggunakan benang dari luar, dalam pembuatan rumah tidak menggunakan paku, tidak boleh menggunakan barang-barang dari luar intinya tidak boleh mengeyam modernisasi dan itu berkebalikan dengan suku baduy luar yang menggunakan pakaian hitam,,namun yang paling saya salut adalah baik baduy dalam dan luar mereka tidak menggunakan listrik untuk penerangan maupun kebutuhan sehari-hari. Mereka tetap menghormati adat istiadat dari nenek moyangnya yakni agama islam dengan aliran sunda wiwitan.
Cewek-Cewek Mecarica
Dibelakang ada lumbung Padi suku Baduy Luar
Selain itu terdapat banyak perbedaan dari mulai pakaian, jenis rumah, bahasa, dan kebiasaan sehari-hari yang cukup kontras pada suku baduy. Misalnya : baduy dalam :berpakaian serba putih dan tidak diperbolehkan menggunakan benang dari luar, dalam pembuatan rumah tidak menggunakan paku, tidak boleh menggunakan barang-barang dari luar intinya tidak boleh mengeyam modernisasi dan itu berkebalikan dengan suku baduy luar yang menggunakan pakaian hitam,,namun yang paling saya salut adalah baik baduy dalam dan luar mereka tidak menggunakan listrik untuk penerangan maupun kebutuhan sehari-hari. Mereka tetap menghormati adat istiadat dari nenek moyangnya yakni agama islam dengan aliran sunda wiwitan.
Cewek-Cewek Mecarica
Sudah 2 hari ini aku tidak melanjutkan tulisanku ini (hehe) saatnya untuk membuka memori kembali perjalananku dulu. Berbagai filosofi hidup aku dapatkan dari KKL IPS terpadu pada kesempatan ini. Hidup berdamai dengan alam. Mencoba untuk memahami dan bersahabat dengan mahakarya pencipta di Lereng Gunung....serta mensyukuri keagungan Tuhan yang menciptakan manusia di dunia ini bersuku-suku, memiliki adat istiadat,tradisi,pakaian, yang berbeda-beda sesuai karakteristik daerah sekitar. Dua malam aku disana mengajarkanku akan kesederhanaan dan keramahtamahan masyarakat Baduy dengan orang asing yang baru mereka temui. Pelajaran berharga yang terpenting dalam petualanganku ini yakni : Suku Baduy yang tidak mengenyam pendidikan tinggi dapat bersahabat dengan alam, sedangkan manusia lain yang berpendidikan tinggi mengetahui bahwa kerusakan alam berdampak pada kehidupan manusia dikemudian hari, tetap berusaha mengeksploitasi hanya untuk mempertebal pundi-pundi uang dengan sikap berperang dengan Alam.
Mutiara Putih Pantai INDRAYANTI
Masih teringat di dalam benakku siang menjelang pagi yang begitu menggembirakan. Sekitar awal 2011 kita penghuni kos Gang Kamboja 16 B melakukan perjalanan yang menyenangkan. Kita cewek-cewek perkasa yang berjumlah 7 orang mengarungi medan perjalanan yang cukup buas(hehe LEBAY). Maksudnya perjalanan dari Jogjakarta menuju Pantai Indrayati yang eksotis di Kabupaten Gunung Kidul.
Perjalanan 1 jam kita lalui bersama sebelumnya rehat sejenak di rumah ana untuk mencicipi minuman (sebenarnya pgn merampok makanan dan minuman)hehe. Setelah mengobrol sebentar dengan kedua orang tua ana, kita melanjutkan perjalanan ke tujuan wisata yang sesungguhnya “PANTAI INDRAYANTI”. Pertama kali menginjakkan kaki kesan pertama disambut oleh Hamparan pasir putih yang bersih tanpa noda satupun. Inilah Pantai Indrayati yakni pantai yang masih virgin belum tersentuh peradapan manusia (lebay lg hehe). Maksudnya kebersihan di pantai ini sangat diperhatikan sampai-sampai ada tulisan yang berbunyi ‘DILARANG MEMBUANG SAMPAH DENDA 10.000”. larangan yang cukup menegaskan agar kita mencintai lingkungan..namun ada satu kesedihan yang ada dipikiran kita yakni ternyata Pantai ini adalah milik Pribadi bukan Pemerintah..What???kok bisa???. Tahu dch mungkin ada yang berkompeten menjawabnya.
Pantai Indrayanti
Batunya Gedhe2
Lagi Liat Kamera Nh..
Pantai Indrayanti
Batunya Gedhe2
Lagi Liat Kamera Nh..
Kesedihan akan kepemilikan Pantai ternyata tidak menghalangi kami ke 7 Bidadari 16 B berenang dan foto-foto di Pantai tersebut. Saat itu hanya kita bertujuh dan petugas jaga pantai..jadi kita bisa bebas bergaya serta berenang sesuka hati..namun semakin siang..pengunjung semakin berdatangan. Tapi tidak menurunkan tingkat Narsis ke 7 bidadari...(hehe). Semakin lama air laut semakin tinggi sehingga mengubah pikiran kami untuk berhenti dan melanjutkan perjalanan ke Pantai selanjutnya dengan Basah Kuyup. Malu itu bukan ciri kita ber7, dengan percaya diri kita menuju pantai selanjutnya yakni Pantai KUKUP.
Mulai Basah Kuyup nh
Mulai Basah Kuyup nh
Saat sampai kita disambut oleh angin laut yang membuat dingin tubuh karena kita yang masih basah kuyup. Tanpa berfikir panjang kita langsung menuju bibir Pantai dan Bernasis ria..(hehe). Setelah banyak ceprat-cepret..akhirnya kita merasa kelelahan dan memutuskan untuk mandi, salat dan pulang. Pulang dengan badan capek..aku berboncengan dengan Rina yang dengan perkasa menuju Jogja..salut untuk Rina yang ngebut untuk sampai di jOgja.
Pantai Kukup
Uh.. Dingin... kena hembusan angin laut
Pantai Kukup
Uh.. Dingin... kena hembusan angin laut
Kenangan yang aku bawa perasaan senang dan gembira berkumpul dengan teman-teman kos yang seperti keluarga sendiri bercanda serta kesedihan kita bagi bersama. Mutiara putih dari Pantai Indarayanti mengungkapkan akan kebersihan dan keindahan pantai Indrayati serta keputihan bersahabatan anak kos 16 B yang kelak menemukan nahkodanya sendiri-sendiri menuju masa depan dengan membawa impian yang berasal dari kos 16 B.
Langganan:
Postingan (Atom)



